Korupsi dan “buang Hajat”

Posted: 15 Desember 2010 in Uncategorized

gayuddd

gayusss

Kalau boleh jujur, aku sudah bosan bicara korupsi. Korupsi bukan hanya menggurita tapi sudah menjadi gen yang secara turun temurun akan selalu ada. Korupsi memang syarat dengan lobi-lobi, intrik, imajinasi bahkan improvisasi. Jangan heran kalau korupsi bukan menjadi hal yang haram, melainkan hal yang halal tapi diharamkan. Awalnya korupsi tak bicara dengan politik, namun sekarang politik yang bicara korupsi. Permasalahanya bukan terletak kenapa korupsi itu terjadi, siapa yang memberikan dana, melainkan korupsi hadir dalam sebuah pergulatan yang tak tahu siapa yang kalah dan siapa yang menang?

Andai boleh lebih jujur tentu kita harus berkaca pada sebuah kondisi jiwa, jiwa yang tak tahu apa dia salah atau dosa, hanya sekedar untaian ketulusan yang tak bisa hadir dalam proses korupsi. Pergumulan, perselingkuhan, bahkan pemerkosaan kata-kata sering dijadikan landasan buat terjadinya korupsi. Biarkan korupsi berjalan, karena sudah ada dalam kitab perjanjian tuhan.

Perlu digaris bawahi, korupsi memang bukan diperuntukan buat manusia, tapi dibuat sebagai landasan hokum rimba. Letak korupsi bukan hanya ada dalam pikiran, tapi juga kata-kata. Perbendaharaan korupsi bukan hanya harta akan tetapi juga hati. Qolbun marid, begitu kata Imam Ghazali.

Korupsi oh korupsi…..

Kita tidak boleh takut dengan korupsi, kita harus menegakkan keadilan, korupsi itu menyengsarakan rakyat. Pernahkah dia berkata, sebelumnya berjalan kearah WC. Orang korupsi sama seperti orang buang kotoran ditepi jalan, selalu ditutupi meski aromanya tercium juga. Layaknya orang kebelet, orang korupsi juga buru-buru, penuh nafsu, bahkan harus menanggalkan pakaian kebesaranya demi mengeluarkan seonggok keburukan.

Korupsi oh korupsi…

Beritamu menjadi barang jualan media massa, kehadiaranmu ditunggu dan dinanti oleh kutu buku, kedatanganmu akan selalu menjadi momok yang harus diikuti. Korupsi sudah menjadi barang dagangan yang laku dipasaran. Terkadang kita diselimuti oleh lumpur nan hitam.

Korupsi oh korupsi…

Jika aku boleh berkata, apa yang kamu katakana pada korupsi? Maka aku jawab” korupsi adalah hajad bukan pada tempatnya”

Islam dan Kemiskinan

Posted: 14 Desember 2010 in Uncategorized

ditengah arus globalisasi

”kalaulah miskin itu berwujud manusia akan kubunuh dia” Ali bin Abi Tahlib.

Sudah lebih dari 64 tahun Indonesia mereeka. Kemerdekaan yang ditempuh dengan mengeluarkan darah, berlinang air mata, demi dan untuk kemeredekaan. Kemerdekaan yang diharapkan mampu membawa tanah air menuju kesejahtraan. Harapan tinggal harapan, berbagai polemik menyebabkan 32,5 juta rakyat masih hidup dibawah garis kemiskinan. Mereka hidup dari makan nasi aking yang kian hari menjadi favorit. Bunuh diri dengan melompat dari mall menjadi trend. Menjual anak diharapkan mampu mengurangi beban hidup yang kian hari semakin berat. Hidup bak kiambang di atas batu, hidup segan mati tak mau. Jika tak kuat iman maka bunuh diri jadi solusi.

Kemiskinan di Indonesia syarat dengan image keagamaan. Indonesia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia ternyata tidak mampu keluar dari jerat kemiskinan. Islam-pun kemudian diidentikkan dengan kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan. Apakah benar Islam mengajarkan umatnya untuk hidup miskin? Jawbanya sudah ada dalam surat….menurut…dari ayat diatas jelaslah bagi kita bahwa muslim yang kuat dari segi ekonomi lebih dicintai dan disukai oleh Allah ketimbang mereka yang miskin.

Jerat Globalisasi

Kemiskinan tidak terlepas dari system internasional yang sekarang menjadi panji-panji pembebasan. System internasional yang menurut kaum realis syarat dengan anarki tidak mampu berbuat banyak. Komitmen mereka terbentuk oleh paham liberaslisme yang mengiginkan agar permasalahan ekonomi sepenuhnya diberikan pada pasar. Pemikiran Adam smith yang didasarkan pada teori New toon, dan self-interest ala Hume belum tentu mampu menjawab tantangan kemiskinan di Indonesia.

System liberal memang tidak sepaham dengan pemikiran ekonomi islam. Islam sebagai ajaran Way of life tidak hanya bergerak dalam wilayah private tapi juga dalam ranah publik. Kehadiran islam sebagai rahmatan lil alamin seharusnya mampu untukmenjawab tantangan zaman. Ketidak mampuan itu sebenarnya sudah tersistematis sedemikian rupa, sehingga tidak ada lagi

Solusi

terasa lebih menyakitkan dari pada zaman peperangan, alhasil sensitifitas semakin tinggi, senggol dikit bacok, ambil pisang satu tandan tiga bulan dipenjara, ibu minah mencuri kakao, padahal sudah minta maaf tidak dibiarkan begitu saja.

Benang merah penyebab kemiskianan masih dalam tanda tanya. Kemiskinan bukan hanya masalah investasi, pendidikan atau bahkan kesehatan. Lebih dari itu kemiskinan seperti lingkaran syetan nan kian merebak. Berbagai winnign solution sudah diterapkan tapi tidak membuahkan hasil.

Sementara para konglomerat semakin menunjukkan eksistensinya. terbukti para parlente semakin meraja lela. Apartemen mewah di dalam jeruji menjadi bagian yang tak terpisahkan bahwa uang bisa membeli aparatur negara.lambanya penangkapan Anggodo Widjoyo dianggap bagian dari proses pencarian alat bukti.Baginya seratus hari tidak mungkin mensejahtrakan rakyat, padahal kita tahu dia sudah menjabat lima tahun seratus hari. Bahkan jargon yang keluar adalah kata ”lanjutkan!”. Apa yang harus dilanjutkan?seakan baldatun toyyibatun semakin jauh panggang dari api, kita sudah hopless pada negara ini?

 

kelakuan MNC

Posted: 14 Desember 2010 in Uncategorized

Akhir-akhir ini banyak kejadian serta peristiwa pengambilan kebijakan oleh pemerintah lebih cendrung dipengaruhi oleh kekuatan korporasi besar. Hal ini dapat kita lihat di Amerika Serikat, bahwa pembuatan undang-undang yang menyangkut dengan penanaman modal asing dan masalah perpajakan ditentukan oleh para pengusaha besar. Senator-senator yang pada hakikatnya menyampaikan aspirasi rakyat, malah menyampaikan aspirasi pengusaha besar. Pada tahung 1980-an berbagai perusahaan Jepang mengeluarkan uang semir sekitar 100 juta dolar per tahun untu melobi tokoh-tokoh di Washingtong, bahkan mereka juga membuat 92 biro hokum.p.r., dan lobi, disusul 25 dari kanada, 42 dari inggris serta 7 dari belanda. Tujuan pokoknya cuman satu yaitu mengganti undang-undang yang lebih menguntungkan korporasi. Tentunya ini berimbas pada masyarakat yang kurang mampu.

Kekuatan korporasi ditambah lagi dengan duduknya orang-orang yang mempunyai background pengusaha dalam pemerintah sehingga pada saat dia menduduki jabatan maka perusahaan yang pernah dipimpinya atau masih dijalankanya akan mendapat proyek dari pemerintah serta dapat mengurangi pajak bagi pengusaha. Seperti menteri luar negeri Amerika Condoleezza Rice yang merupakan direkur Chevron antara 1991-2001, Chevron memenangkan kontrak minyak di Kazakhstan sepanjang 900 mil.. Dick Cheney sebelum menjadi wakil presiden adalah CEO Hlliburton yang berbasis di Texas. Perusahaan ini kemudian mendapat kontrak bernilai milyaran dilar unguk melakukan Rekontruksi di Iraq.

Fenomena di atas jelas memperlihatkan kekuatan MNCs (Multinational Corporations) sebagai aktor yang sangat menentukan dalam kebijakan pemerintah. Bargaining positon para aristokrat sangat kuat dalam pemerintahan. Hal ini kemudian mengingatkan kita bahwa masalah politik pada hakikatnya berawal dari masalah ekonomi, sehingga isu isu ekonomi kemudian menjadi masalah high politics. Pada saat ekonomi menjadi high politics maka peranan ekonomi meningkat, secara tidak langsung kedudukan para aristokrat dalam dunia politik semakin kuat. Bukankah bargaining position sebuah Negara ditentukan oleh sejarah dan kemampuan Negara tersebut untuk memenuhi kebutuhanya?.

Kebutuhan sebuah Negara terhadap aristokrat sangat tinggi, saat ini pemerintahan diberbagai Negara masih beranggapan bahwa aristokrat memberikan pemasukan yang sangat tinggi dalam sebuah Negara. Kesalahan persepsi ini kemudian membuat proses diplomasi dan pembuatan kebijakan selalu dipengaruhi oleh aristocrat. Kejadian kejadian seperti ini bukanlah hal baru dalam dunia diplomasi, jauh sebelumnya Nicholson telah membicarakan konsep diplomasi komersial, perdagangan atau shop-keeper. Diplomasi komersial atau diplomasi melalui ekonomi, yaitu diplomasi yang dikaitkan dengan factor-factor ekonomi. Pertimbangan utama diplomasi terhadap kepentingan nasional harus berhubungan dengan pengertian financial.

Perkembangan diplomasi financial seperti ini pada abad 21 perlahan lahan mengalami kemunduran, hal ini dibuktikan dengan kesadaran mendasar dari Negara-negara yang sebelumnya secara geografis dan politik mempunyai kedekatan dengan neoliberalis mulai meninggalkan korporasi dan Negara yang mempunyai hubungan dengan korporasi tersebut. Negara-negara di Amerika latin yang sebelumnya selalu mendewakan Amerika Serikat sekarang malah menentang dan melawan, bukan hanya itu saja lembaga keuangan yang secara tidak langsung berada dalam naungan Amerika Serikat dan Uni Eropa juga diputuskan. Prediksi ini didasarkan dengan pernyataan dari Presiden Venezuela “Hugo Cahvez” yang menarik diri dari IMF(International Monetary Fund)dan WB (World Bank)kemudian melakukan perubahan perjanjian dengan para Aristokrat agar tidak seenaknya saja mengambil keuntungan. Keberanian Venezuela diikuti oleh Evo Morales(Bolivia), Lula da Silva (Brazil), Nestor Kirchner (Argenta), dan Rafael Correra (Equador). Signal yang sama juga ditunjukan oleh Chili, Meksiko dan Peru.

Keberanian Negara-Negara yang secara geografis dan politik mempunyai kedekatan untuk melawan kekuatan aristokrat tentunya memberikan sebuah harapan baru bahwasanya kekuatan aristokrat perlahan akan mengalami kemunduran. Pada akhirnya proses diplomasi dan penentuan kebijakan sepenuhnya berjalan pada jalur yang semestinya dimana kepentingan suatu Negara tidak dipengaruhi oleh para Aristokrat semata melainkan pada rakyat.

Somalia oh… Somalia

Posted: 14 Desember 2010 in Uncategorized

Setahun belakangan Somalia menjadi sorotan berbagai media internasional. Negara yang berada dalam wilayah afrika bagian timur itu tersohor bukan karena prestasi yang membanggakan, melainkan ulah sekolompok orang yang berada di kawasan Teluk Aden. Kelompok ini selama tahun 2008 sudah merompak lebih dari 95 kapal, menurut sumber lain malah sampai 125 kapal.

Aksi perompakan yang dijalankan sungguh sangat rapi, mereka berkerja sangat propesional sehinggap kapal tangker raksasa milik Arab Saudi “Sirius Star” yang tiga kali lebih besar dari kapal induk juga ikut dijarah, sungguh sangat mengherankan. Kegiatan perompak sudah terlatih sehigga kapal sebesar apapun bagi mereka tidak jadi masalah.

Perompakan di Teluk Aden ini telah mengakibatkan kerugian yang sangat besar, satu kapal raksasa milik Arab Saudi yang berisi 2 juta barel minyah mentah sudah bernilai 100 juta dollar AS. Belum kapal-kapal lain.

Perompak akan membebaskan kapal apabila tebusan yang mereka minta dibayarkan, biasanya tidak mencapai 10% dari nilai jual muatan kapal. Terkadang mereka memberi tenggang waktu penebusan, namun bila tidak diberi mereka tidak segan-segan untuk menahan kapal sampai kapanpun.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meredam dan memusnahkan kelompok ini. Bahkan Uni Eropa sudah mengirimkan kapal sebanyak 3 buah, masing-masing dari Yunani, Inggris dan Perancis, namun tetap saja tidak mampu membendung para perompak. Hal senada juga dilakukan oleh Negara di bagian Asia, seperti China dan yang terakhir dari Singapura.

Organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa juga turut andil dalam pencegahan dan pemberian sanksi bagi Somalia. Sampai saat ini PBB masih berupaya untuk membuat draf yang ke 4 kali sejak juni 2007. Hal ini seakan memberikan nuansa baru dalam aksi kejahatan internasional.

Lalu samapi kapan aksi ini berlangsung? Apakah kapal perang yang dimiliki AS,Uni Eropa, China tidak mampu untuk memberantas segelintir perompak di Somalia atau ini hanya sebuah rekayasa tersembunyi untuk membentuk sebuah pertahanan di wilayah Afrika?

Hello world!

Posted: 13 Desember 2010 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!